Tempatnya Pensil
Thursday, January 22, 2015
Diam-diam
Di dadanya, disediakannya altar untuk dirimu
Dipuja, lalu dia nyanyikan berbagai lagu rindu.
Ada yang diam-diam
Mencintaimu
Merindukanmu
Ada yang merindukanmu dengan diam-diam
Disediakannya kain hitam untuk menutupi rindunya yang meletup-letup tak karuan di sisimu.
Ada yang diam-diam begitu merindukanmu
Aku.
~@priahujan
Friday, December 26, 2014
rindu tak bisa berdalih
waktu datang teratas namakan cinta.
angin berlalu membawa dalih romansa.
diam disepenggal kata dalam rima doa.
mengagungkan kesetiaan manusia.
canda kau buat,
rindu kau lepas begitu hebat.
coba kau lihat,
ada hati yang sendiri di ujung kiamat.
lenggang langkah kau nyanyikan bahagia.
di jejak langkah ada darah.
seperti bekas luka yang tak kau rasakan
nyanyianmu berlanjut menepikan kediktatoran malam.
jangan lagi kembali.
satu luka telah kau sayat di tepian hati.
tepat di samping pintu pembuka imaji.
biar waktu yang ambil alih takdir Illahi..
~@kopipiko
Thursday, November 13, 2014
Pulau Merah
Pada jejak-jejak yang jatuh dari langkahmu
angin menghempaskan pahatan-pahatan kecil di jalan kepergian itu.
membangun peradaban pengubur lupaku dalam istana pasir.
di pantai pulau merah.
Perubahan musim tak merubuhkan kau secuil pun dari kepalaku
sebab kau telah menjadi lukisan yang terpaku di dinding dada
paku yang menyukai setiap pukulan palu yang kaubuat dari pelukanmu.
begitu menancap kuat di ingatan.
Jika pantai ini kau dedah, kau hanya akan menemukan kepalaku
tapi akankah kutemukan aku jika kepalamu kubedah dengan pantai ini?
"bisa iya, mungkin tidak," sahut detik arlojimu.
kepalaku pun terangguk mahfum.
(by: @kopigenic)
Thursday, October 23, 2014
aamiini mimpi
dingin embun pagi.
lirih turun menyapa keheningan.
memeluk kesepian.
mengikis setia dalam dekapan.
semalam tadi,
rindu menyapa mimpi.
bergulat dengan imaji.
menghangatkan sendiri yang menanti.
bayang seakan indah.
senyum bahagia merekah.
setiap ucap rindu terdengar mendesah.
hilang semua gundah.
tapi itu mimpi, sayang.
bukan nyata yang selalu kuinginkan.
bukan nyata yang pernah sama kita impikan.
bukan nyata yang selalu kuaamiinkan.
pagi, sayang.
sapa mentari pagi.
kusuguhkan hidang secangkir kopi.
menghangatkan sisa mimpi.
lalu kuaamiinkan untuk kelak ada benar terjadi.
sampaikan pada riuhnya hari ini,
aku nenanti di ujung cinta yang abadi..
(@kopipiko)
Saturday, October 18, 2014
Tempat(nya) Pensil
Thursday, October 9, 2014
kopi pagi yang menanti
mentari datang tepati janji
siap membuka panggung megahnya hari
secangkir kopi dan roti isi
temani kepergian embun pagi
menghangatkan sekedarnya jiwa yang sendiri
masih tersisa riuh kesepian semalam
yang begitu riang tarikan bahasa kerinduan
yang begitu lincah berlarian
lalu nyanyikan bait-bait syahdu kenangan
yang begitu anggun duduk di kursi penantian
ada jiwa yang menanti
tentang sebuah kepergian yang sisakan peluh hati
tentang hari-hari bahagia yang pernah saling mengisi
dan juga tentang indahnya mimpi yang pernah saling ter-aamiin-i
jiwa yang sendiri
yang terkadang hanya menatap pada kenangannya
lalu memelukknya dengan penuh harapan
agar kelak nanti akan kembali lagi kepadanya
sejuta kenangan indah
tak akan bisa begitu saja musnah
karna benih rindu yang dulu
kini mulai perlahan merekah
kopi pagi yang menanti
tentang bagaimana hujan begitu sigap menjadi saksi
saksi pada dua hati
yang berlarian telanjang kaki
sambil tertawakan semua isi hari
yang lalu mencinta sendiri
seakan tak pernah akan ada lagi
kopi pagi yang menanti
tentang bagaimana cinta pernah terjadi
di mana dua anak manusia saling membakar nafsu dunia
lalu mulai mendosa walau berdalih cinta
buta pada sekitarnya
kopi pagi yang menanti
masih dengan rindu dan keyakinan esok kan kembali.
(@kopipiko)
Tuesday, October 7, 2014
PeRi di Samudra Rindu
Sinar mentari menyeruak masuk lewat tirai jendelaku.
Derai hangat menyinari kalbu.
Senyum terjuntai menghiasi bibirmu.
Mengakhiri rangkai mimpi indah jiwaku.
Menyapa, terucap selamat pagi untukku.
Semua tiada bermakna.
Kisah penuh kasih, hangat canda tawa, bahagia membingkai kisah.
Hanya fatamorgana.
Bagai angin lalu, lupa akan itu semua..
Datang dengan sejuta pesona.
Namun kamu melenggang pergi saat ku mulai percaya.
Belati kasih menyayat jiwa.
Panah cinta menghujam, menyisakan darah kecewa.
Perajut Rindu [PeRi] terombang ambing di tengah samudra rindu.
Meski luka lebam membiru
Ku masih menantimu.
Yaa.. Ku kan bertahan.
Meski benang rindu kusut sekalipun, kan ku urai.
Ku yakin, perjalanan indah suatu saat kan ku tuai.
Gerbang bahagia di ujung telah melambai.
Suatu saat nanti..